Thursday

dari buku interpretation of culture, clifford geertz

tugas bu riga
review dari buku interpretation of culture, clifford geertz.



===

CHAPTER 3: THE GROWTH OF CULTURE AND THE EVOLUTION OF MIND

Pada Bab 3 dari buku Interpretation of Culture yang di tulis oleh Clifford Geertz ini terdiri dari 4 sub bab mengenai adanya silang pendapat antara para ahli mengenai mind, apakah hal itu sesuatu yang objective atau subjective, asal-muasal pikiran manusia yang mempengaruhi seseorang dalam melakukan sebuah tindakan, bagaimana pikiran mempengaruhi budaya seseorang. Ia membahas dari manusia awal kemudian bagaimana perbedaan antara sesama mahluk hidup yang berlainan level kehidupan dari burung, anjing pengembala hingga gurita. Yang masing-masing mempunyai otak namun tidak seperti manusia yang juga memiliki otak dan sesuatu yang oleh sebab sesuatu itu menghasilkan pikiran-pikiran dalam otaknya. Melalui sistem dalam tubuh manusia yang lebih kompleks, melalui syaraf-syaraf yang saling terhubung yang jumlahnya sangat banyak. Tentu hal ini melalui proses yang tidak sederhana. Geertz mengambarkan tentang hal ini pada sub babnya yang ke 2 dan ke 3. Dan pada bab 4 ia jelaskan lebih lanjut.

Geertz membuka tulisan ini dengan mengutip tulisan Gilbert Ryle, mengenai pernyataan” The mind is its own place” seperti halnya pendapat para pembuat teori, bahwa itu tidaklah benar adanya dan bahwa pikiran bukanlah sebuah tempat methaphorical. Menurut Ryle, pikiran bukan nama dari orang lain, bekerja dan bergurau di belakang sebuah layar tembus pandang, juga bukan nama dari sebuah tempat dimana pekerjaan dianggap selesai atau permainan dimainkan dan bukan juga nama lain dari sebuah alat yang dengannya sebuah pekerjaan selesai dan tambahan lain dimana permainan dimainkan.

Berdasarkan sejarah intelektual mengenai ilmu pengetahuan, konsep pikiran telah memainkan aturan dobel yang ingin diketahui orang. Mereka ada yang menghormati pembangunan dari ilmu tersebut termasuk didalamnya rectilinear tambahan dari methode ilmu physic dalam bidang organik yang mengunakannya sebagai sebuah kata setan, yang menjadi referensi dari apa yang semua metode dan teori telah gagal mengukur dan kepada ideal kepahlawanan dari objectivitas. Hal-hal seperti pemahaman, pemikiran konseptual, image, ide, perasaaan, refleksi, fantasy dan sebagainya dianggap sebagai sesuatu yang mentalic yang didalamnya telah terkontaminasi subjectivitas dari kesadaran dan terasakan oleh mereka menyiksa sebagai siksaan kesalahan dari keberanian para ilmuwan. Namun juga ada menentang hal tersebut. Disini bisa kita lihat bahwa hal-hal yang berhubungan dengan alam pikiran masih dinilai sebelah mata oleh beberapa kalangan dan menimbulkan adanya perdebatan.

Pada kenyataannya bahwa ada pengecualian bahwa makna dari pikiran tidak mempunyai fungsi sebagai konsep imliah namun hanya sebuah rencana rhetorical, walaupun ketika pengunaannya telah dilanggar. Lebih tepatnya, hal itu telah bertindak untuk berkomunikasi dan kadang untuk di eksploitasi, ketakutan dibandingkan mendefinisikan sebuah proses, ketakutan terhadap subjectivitas disatu sisi dan ketakutan terhadap mekanisme di sisi lain. Geertz mengutip pernyataan Clark Hull untuk mengingatkan kita bahwa walaupun diketahui secara alami dari anthropormorphic subjectivitism dan bahayanya namun yang utama dan pemikir berpengalaman adalah seperti halnya mencoba mencarikan dirinya seorang korban dari godaannya dan dorongan sebagai “prophylaxis” sebuah strategi memandang semua kelakuan sebagai apa yang di produksi oleh anjing, seekor tikus albino atau sebuah robot. Dipihak lain, Gordon Allport menyatakan sebuah perlakuan kepada penghormatan manusia dalam sebuah pendekatan, bahwa model yang kita miliki mengikuti kekurangan jarak yang panjang dari orientasi dimana merupakan esensi dari moralitas...sebuah kecanduan terhadap mesin-mesin, tikus-tikus, atau bayi menuntun kita pada permainan yang berlebihan pada gambaran dari kelakuan mahluk hidup yang ada disekeliling, orientasi sinyal atau genetika dan untuk melakukan permainan di bawah gambaran tersebut yang merupakan sentral, orientasi masa depan atau simbolic. Dari kontradiksi deskripsi ini dapat kita lihat apa yang menghantui study dari manusia, pertentangan antara keinginan untuk menampilkan sebuah analisa yang menyatakan aspek langsung dari kelakuan mahluk hidup dan mempertemukan senjata ilmuwan dari objectivitas, menemukan diri mereka tertekan oleh stratagem yang agak putus asa menunjuk kepada diri mereka sebagai” subjective behaviorists”.

Sejauh ini konsep pikiran memperdulikan, bahwa penyataan hubungan antara ketidakberuntungan ekstrim dikarenakan adanya paham extraordinary yang berguna dan satu yang mana disana tidak ada yang menyamai keseimbangan, menyimpan paling tidak the archaism” Pysche”, berubah menjadi sebuah shibboleth. Dan yang lebih menakutkan bahwa makna nya secara lebih jauh kurang mendasar, sebuah gema kematian dari mock civil war yang agung antara materialisme dan dualisme yang dibangkitkan oleh revolusi newtonian. Masih mengunakan Ryle, menurutnya Mechanisme adalah hantu , karena ketakutan dari hampir semua asumsi yang saling berkontradiksi untuk mengatakan bahwa ada satu dan kesamaan kejadian yang diperintah oleh hukum mekanikal dan prinsip moral, seperti ia mengambarkan seorang pemain golf dengan hukum ballisticnya, mengacuhkan peraturan golf dan bermain dengan anggunnya. Namun subjectivitas juga menurutnya adalah hantu, untuk ketakutan tersebut yang sama dari asumsi yang ganjil dimana Geertz tidak mengetahui apa yang kita impikan semalam kecuali kita memberitahukannya, pembuatan teori yang manapun geertz memposisikan dirinya, ia berada dalam aturan ini, sebagai fakta mental yang bermain dalam tindakan haruslah berdasar pada apa yang salah dari anthropomorphic analogy bahwa apa yang ia tahu dan ia pikir ia tahu adalah tentang apa yang bermain dalam dirinya. Sementara komentar Lashley bahwa metaphysician dan theologian yang selama ini telah menenun dongeng peri tentang pikiran dimana mereka percaya fantasi antar mereka adalah tidak akurat kecuali hal itu mengabaikan pada catatan dari para ahli behavior yang hebat yang saling berhubungan dengan kesamaan dari autisme kolektive.
Geertz juga membahas mengenai pengunaan noun dan verb dalam pemaknaan terhadap setiap kata yang digunakan oleh manusia. Jika mind seharusnya mengacu pada faith, hope and charity, mind adalah minding, science adalah sciencing namun superego apakah menjadi superegoing, hal itu dinilainya agak janggal. Terdapat kabut yang menyelimuti konsep pikiran sebagai kesalahan analogy dengan nouns dimana nama orang, tempat dan benda adalah perkembangan lebih dalam terhadap sumber daripada kegembiraan linguistik.

Dari sudut ilmiah , untuk mengidentifikasi pikiran dari kelakuan, sebuah reaksi dari organisme secara keseluruhan adalah untuk menyatukannya sebagai ketidakgunaan melimpah sebagai identifikasi hal itu dengan sebuah entitas” lebih menakutkan daripada hantu”. Pikiran juga bermakna sebagai keahlian dari sebuah kelas, propensities, kapasitas, tendesi, kebiasaan; berdasarkan kata Deweys kepada” active and eager background which lies in wait and engages whatever comes its way”.
Geertz juga membahas mengenai legenda babi panggang china yang diproduksi karena hasil ketidaksengajaan ketika terjadi kebakaran di sebuah rumah sebagai sebuah pengetahuan tentang cara memasak, bahwa manusia mengunakan pikiran pada sebuah organisma, kita berbicara tentang baik itu aksi organisma tidak hanya berupa produk namun juga kapasitas, kecenderungan, disposisinya untuk menunjukkan beberapa jenis dari aksi dan produksi dari beberapa produk, sebuah kapasitas dan sebuah kecenderungan yang kita tentunya memasukkannya dari fakta yang ia lakukan kadang tunjukkan seperti halnya aksi dan produksi produk tersebut.

Lebih jauh ia membahas framework konseptual secara general yang layak didiskusikan dari sisi biological, psychological, sociological dan cultural determinant dari kehidupan mental manusia saling bekerjasama tanpa membuat membuat satu pun hipotesis ter-reduksi. Ini dikarenakan sebuah kapasitas untuk sesuatu atau atau kecenderungan untuk melakukan sesuatu, tidak untuk menjadikannya sebuah entitas atau sebuah penampilan , adalah sesuatu yang mudah tidak dapat dipengaruhi oleh untuk reduksi. Dalam kasus Badut yang diungkapkan Ryle, bahwa badut dapat melakukan akrobat bahwa merupakan hal mudah bagaimana sebuah organisma melakukan suatu tindakan, namun menganti kalimatnya sedikit saja akan membuat sedikit perubahan walaupun ini tidak berarti mereduksi tindakan tersebut, misal kata ‘can’ ke kata ‘is able to’ dsb, dari verbal ke adjectival atau bentuk form.

Bahwa pada setiap kemungkinan tiadalah merupakan area dari pertanyaan, adalah sebuah pengingkaran dari paradoks yang dimanufaktur lebih berguna daripada apa yang dipelajari dalam evolusi mental. Sebuah beban di masa lalu yang hampir semua dikarenakan oleh kesalahan antropologi di masa lalu - - ethnocentrisme, sebuah overconcern dengan keunikan manusia, imajinasi sejarah yang direkonstruksi, sebuah konsep superorganik dari kebudayaan, tingkatan utama dari perubahan evolusi - - dan semua pencarian untuk asal dari mentalitas manusia yang ditekankan kepada keburukan atau pada berbagai ukuran yang diabaikan. Namun melegitimasikan sebuah pertanyaan - - dan bagaimana seseorang datang untuk mempunyai pikiran adalah legitimasi pertanyaan - - yang tidak invalid oleh jawaban yang salah mengerti .

Berikutnya pada bab kedua, Geertz menjelaskan bahwa terdapat 2 pandangan dari human mind evolution, yang dianggapnya inadequate, dan masih digunakan saat itu.
1. Pandangan pertama mengenai proses pikiran manusia yang oleh Freud dikatakan sebagai “primary” - - substitution, reversal, condensation dan sebagainya - - adalah phylogenetically utama bagi apa yang ia sebut “ secondary” - - directed, logically ordered, reasoning dan sebagainya. Thesis ini telah digunakan pada asumsi untuk mengidentifikasi pola dari budaya dan mode pemikiran.
2. Pandangan kedua mengenai human mental evolution yang berkembang, tidak hanya existence dari pikiran manusia dalam essentialitas bentuk modern sebuah pendukung yang diperlukan untuk akuisisi dari budaya, namun perkembangan budaya didalamnya itu sendiri telah menjadi tanpa sesuatu yang signifikan bagi mental evolution.
Selain itu ia juga mengambarkan tentang bagaimana sebuah kebudayaan itu lahir dan tubuh dalam kehidupan manusia. Bagaimana orang tua mengajarkan untuk berkomunikasi, belajar dan mengajarkan dan untuk mengeneralisasikan dari rantai yang tidak pernah putus untuk mediskritkan perasaan dan atribut untuk kemudian budaya saling berakumulasi. Dan ia mempertanyakan bagaimana hubungan antara enculturated man dan nonenculturated non-man, tentang fosil Australopithecine yang berasal dari Afrika selatan dan sebagainya.

Pembahasannya mengenai otak Australopithecine menghantarkan ia kepada permulaan sebuah budaya, sesuatu yang agak sukar diterangkan sirkumtansi jika kapasitas kebudayaan adalah bergantung pada apa yang telah disatukan hasilnya dari potongan kuantitatif namun kualitatif metastatic merubah dari air yang membeku. Tidak hanya menjadi sebuah panduan yang menyesatkan untuk dipekerjakanb dari persetujuan oleh imajinasi penilaian penampilan manusia namun juga keseimbangan yang diragukan walau kita seharusnya perlu berbicara lebih jauh mengenai makna pemunculan budaya juga tentang budaya selama manusia masih ada.

Kemudian pada bab 3, ia banyak membahas bagaimana kaitan antara syaraf-syaraf yang bekerja untuk mengaktifkan sebuah tindakan pada otak dalam tubuh manusia, sheep dog/ anjing gembala domba, mahluk hidup pada level yang lain seperti halnya invertebrata. Response yang dihasilkan itu nantinya menunjukkan apakah akan menghasilkan tindakan fight or flight baik itu terjadi pada hewan atau manusia.

Pada bab ini ia juga ia mengatakan bahwa ada 3 hal mengenai human culture adalah sebuah ingredient bukan sebuah supplementary pada pemikiran manusia untuk beberapa alasan.
1. Fakta bahwa subhuman animals belajar untuk alasan dengan kadang dimulai dari effectivitas, tanpa belajar bahasa, tidak terbukti bahwa manusia dapat melakukan hal yang sama, selebihnya daripada kenyataan yang mana seekor tikus dapat bersetubuh tanpa mediasi belajar imitasi atau praktek yang juga dilakukan oleh simpanse.
2. Apasics adalah orang yang belajar berbicara dan mencoba menata bicaranya, dan kehilangan (atau kehilangan sebagian) kapasistas bentukannya, bukan orang yang tidak pernah belajar bicara sama sekali.
3. Dan yang paling utama, berbicara adalah sebuah rasa dari bunyi suara saat berbicara adalah jauh dari alas publik instrumentalitas yang mungkin kepada pojected individuals kedalam sebuah permulaan yang ada dalam budaya lingkungan pergaulannya.

Geertz mencontohkan fenomena Hellen Keller, yang mencoba belajar dengan kombinasi manipulasi dari antara objek cultural sebagai gelas atau air seperti pola yang diajarkan oleh gurunya miss Sullivan dengan sentuhan tangannya.Geetz juga memberi contoh tentang bagaimana seseorang mencoba mengambil uang di pocketnya. Mengutip J. Dewey bahwa fungsi dari pemikiran reflextive adalah untuk mentransform sebuah situasi didalam, yang mana terdapat pengalaman ketidakjelasan dari beberapa kejadian, kedalam sebuah situasi yang jelas, koheren, setlle, harmoni.

Human intellection, pada spesifik rasa dari alasan yang mengaturnya, tergantung kepada manipulasi dari beberapa bentuk sumber budaya dalam sebuah tindakan perilaku sebagai apa yang diproduksi ( mengetahui, terseleksi) rangsangan dari lingkungan adalah dibutuhkan apapun gunanya oleh organisma; hal ini digunakan untuk pencarian informasi. Semakin rendah seekor hewan, maka semakin sedikit apa yang perlu diketahu dari lingkungan utamanya ke performance kelakuan; geertz memberikan contoh bagaimana burung terbang .

Menurutnya bahwa manusia adalah mahluk paling emosional dan juga yang paling rasional dari hewan, ini mempunyai pengaruh pada apa yang manusia takutkan, sugesti, sampai taboo, kelakukan homogenisasi, rasionalisasi yang cepat namun manusia juga tidak dapat secara efficiently absen dari keadilan yang tinggi tingkatnya dikarenakan adanya unsur emosional, mekanisme budaya yang mempengaruhi kegiatannya.

Pada bab 4, ia mengulas kembali tentang mind, bahwa kata itu mengandung makna pasti dari susunan disposisi dari organisma. Kemampuan untuk berhitung adalah mental karakteristik sepertijuga kebahagiaan kronis. Bahwa problems dari evolusi pikiran adalah telah ada walaupun sebuah isu yang salah dari generasi oleh kesalahan membayangkan metaphysic, juga satu penemuan yang pada point ini termasuk sejarah kehidupan sebuah anima yang tidak kelihatan telah ditambahkan pada material organik.

Dan pada akhirnya, tercantum bahwa pemikiran manusia adalah sebuah tindakan overt yang utama dikonduksi dalam makna dari material objective dari budaya yang pada umumnya dan hanya hal kedua sebagai tindakan pribadi. Dalam perlaksanaannya keduanya saling mendirect alasan dan menformulasikan sentiment seperti halnya integrasi dari apa yang masuk dalam motives, proses mental manusia bagaimanapun termasuk mengambil tempat di meja para pelajar atau pemain bola di lapangan. Klaim isolasi untuk sistem tertutup dari apa yang utama dari budaya, organisasi sosial, kelakuan individu dan ketakutan physiology kepada saling berlawanannya tidak-saling berdiri, progress dalam analisa kebutuhan pikiran manusia sebuah serangan bersama dari virtual semua dari ilmu kelakuan, yang mana didlamanya ditemukan adanya saling mendesak antara penghubung theoritical dengan yang lainnya.


:)

0 comments: