Saturday

soal matahari merah

hahaha... satu satu jalan emang harus dilalui ya. ini nih salah satunya nyang ngendon udah ampir berapa ya..ya..berapa tahunlah di dalam komputer. kangen juga ngulik2 akhirnya ada waktu juga ya untuk menulis walaupun harus satu persatu.

matahari merah tadinya mau bercerita tentang seorang pekerja freelance yang jatuh cinta sama pria hindu india yang kerja di kontraktor ausie di jakarta tapi kemudian berubah jadi cerita tentang persahabatan..eh berubah lagi jadi soal kisah cinta nenek2 dan cucunya ..ehhhhh terussss berubahhhhh lageee jadi cerita cinta seorang mama dan seorang pria bali dan cinta anak ke mama-nya ( hahaha.. gue banget seeghh)..duhh jadi berubah terusss yaaa ( dasar penulis plin plan)..tapi poin nya sih pengen nonjolin soal reinkarnasi..huhuhu..otak gue dipengaruhi kata ini deh..kenapa sih ya?

btw buat anak gpk mah cerita ini udah dikenal..dan paling..ahhh standarrdd kisah hidup rike hahahaha..tapi biar deh..secara..penulis pengen duit juga boow'
biar deh dikatain" ke..jualan aermata ya ke?" hahahahaha...

hari gini..siapa sih yang gak BU..ahahahahaha

baca soal reinkarnasi di hindu, budha, mana lagi ya..nanyain soal india, bali, apalagi..waks!

soal ini.. berangkat dari si juru kunci..hmm..kuncen??.. "S" da stupido man' itu..maaf yaaa "S"..lalu berkaitlah benang benang dalam kehidupan ini..apasih ke'?
dan kemunculan kata reinkarnasi. sebenernya dah lama denger kata ini..yaya..sekitar sd kelas 6 tapi apa kah itu..baru belakangan ngerti.

o ya kadang ya.. kalo boleh dilahirin kembali (kayaknya gue pernah posting soal ini di blog gue yang doloo deh)gue mau milih jadi.. biksuni di tibet hehe..(mantabbbbb)kayak si peony.hmm... atau sekalian..gue pengen jadi dinosaurus pemakan sayur dan buah-buahan...( lebih mantabbbbb..)pokoknya gak muluk deh.. gue mah gak mau jadi pemimpin anu pemimpin inu..secara bukan orang politik..hah.. politik bikin puyeng kepala..lierrr...


yaya..kayaknya dua anak gpk udah pernah baca ya soal ini tapi berikut ini kisah baru si matahari merah hehehehe... be patient ya guys..someday..someday..someday..gue selalu berdoa agar proses membuat dan menghasilkan ini menjadi lancar...amiennnn...


========================================================================


Matahari Merah




Mari gadisku kita menyongsong matahari senja.
Matahari telah merah.
Seperti saat pertama kumelihatmu.
Setelah ini malam akan gelap dan kita akan terbang berdua ke angkasa.

Lalu si gadis berkata:Apakah kita telah sampai sayang?...




Dan telah damai Mama di hari Jum’at pagi itu dengan segaris senyum dibibirnya. Tenang. Dingin. Terbaring disitu. Tunai sudah janjinya untuk melengkapi waktu. Aku memeluknya seakan dia masih ada. Masih tertawa melihatku mengerami telur dengan sarung atau sebaliknya, aku tertawa melihatnya dengan dandanan ibu-ibu berangkat fitness. Tapi kali ini tak ada respon darinya. Kuelus tangan hingga lengannya, tapi rasa dingin menjalar, beku bagai es di antartika semakin menjadi-jadi. Turbulens berkitar-kitar disekelilingku. Ingin menonjoki dinding ruangan itu. Ingin rasanya berteriak, menyatakan kemarahanku, mengapa dengan mamaku? Mengapa dia tidak menjawabku? Mengapa dan..mengapa?
Ledak tangis kakak dan nenek yang duduk di sudut kamar ruang AC dingin rumah sakit menambah rasa marahku yang tak tahu harus kutujukan kemana, ke siapa, yang akhirnya menjadi kambing hitam rasa marahku. Aku masih disitu mengelus-elus tangannya, dan kemudian datang kakak yang lain, lalu tante, lalu…dan terakhir, Papa.
Papa datang mengecup dahi Mama.
Memperhatikan wajahnya dengan seksama.
Dengan wajah seperti menahan suatu rasa yang bulat besar pada wajahnya, ia lalu pergi kemudian keluar ruangan, dan apa yang terjadi setelah itu aku tidak tahu. Menurut Bi Ati, ia menangis di pojokan sambil terus berusaha menelepon beberapa kerabat dan rekannya.
Tak berapa lama, karena nenek menginginkan agar segera dilaksanakan penguburan. Tubuhnya itu kemudian dibawa ambulans ke rumah. Ditutup selimut kain berwarna biru muda milik rumah sakit. Ia tidur begitu pikirku terus.
Masih disana aku menangihnya untuk berbicara, di rumah kami, di ruang tengah yang telah dikosongkan bangku-bangkunya. Hidup. Ya hidup kembalilah Ma’. Namun sekali lagi ada hampa disana, yang kemudian dipadu oleh suara orang-orang sibuk,” bendera kuning sudah dipasang di depan belum?”,” orang yang mau mandiin sudah datang belum”,” tabah ya..tabah…” dan kemudian malah airmataku baru saja keluar. Karena akhirnya pula kutemui rasa yang semakin aneh dari kejadian hari itu.
Aku menepi di pojok. Menumpahkan rasa sedihku. Sampai Papa diantara kesibukannya berkata kepadaku,” Ki’ sudah telepon om Adi di Bali belum? Kabari segera! Papa mau urus yang lain”
Kalimat singkat itu menanda perintah. Papa memang hobby memerintah, itu sebabnya mungkin ia adaptable bekerja di pemerintah. Dengan malas, masih dengan rasa aneh yang menjalar semakin kuat, mendekat aku pada telepon yang sedari tadi bergiliran sudah orang memakainya. Aku dengan gaya pemaksaan berhasil mengeser tanteku yang sedari tadi telepon sambil menangis-nangis.” Tante,aku mau telepon om Adi di Bali. Pinjem”, singkat tentu dengan nada judes khasku. Rela kemudian ia memberikan telepon rumahku itu.
Kode area Bali—kemudian nomer rumahnya. Kurasa ia sedang tak ada di rumah karena hari itu hari kerja.
“ Hallo”, kataku
“ Ada om Adi? Ini dari Kiki”
“ Ini dari Kiki mana ya?” suara perempuan. Mungkin istrinya om Adi, tante Mita.
“ Ini Kiki anaknya Ratna”
“ Iya Ki. Ada apa?” suaranya lebih lembut dari sebelumnya
“Mama meninggal tante”, kata itu melanjutkan rasa anehku dengan bangkitnya syaraf-syaraf dalam tubuhku merespon untuk minta mengeluarkan sesuatu. Lalu kemudian tangis.
“ Ya Tuhan, kapan Ki? ”
“ Tadi pagi tante. Kanker paru Mama Tante. Kata Teteh, Ma kena serangan jantung juga..Mama tante..Mama..”
“ Ya Tuhan..tabah ya Ki..salam buat ayah ya..yaya…habis ini tante kabari om di kantor segera,”
“ Terima kasih ya tante..”
Dan kututup gagang telepon itu. Berlalu pergi menuju taman rumah yang sudah ditata untuk acara pemandian mayat Mama. Gedebong pisang besar sedang dibelah, bunga warna-warni dalam ember tong besar, disudut lain kulihat ada yang membakar dupa – entah untuk apa. Aku mengira ada hubungan dengan hal mistis antara mayat dengan alam lain dan dupa, karena baru pertama kali dalam hidupku ini mempersiapkan kepentingan untuk mayat. Tapi bau itu khas sekali ya.
Aku kemudian memandikan mama. Selama ini mama yang menyampoi rambutku, menyabuni diriku dan membantu mengosok gigi. Kini aku yang melakukan itu, namun
Siang. Mayat Mama disholati di masjid dekat rumah. Dan menurut islam, yang bila ada lebih dari 40 orang yang bisa menyolati seorang Mayat, maka sebaiknya di sholati di masjid. Setelah itu, dibawa dalam kereta jenazah milik yayasan bunga kemboja ke pekuburan. Aku ada di dalam kereta jenazah, di samping Mama. Dan masih tak merasa ia akan – sebentar lagi masuk ke dalam lubang tanah. Pikiranku tetap. Ia sedang pergi jalan-jalan atau mungkin fitness dengan temannya ibu-ibu aneh itu. Ia tidak mati kok. Ia tidak mati. Terus menerus pikiranku menyangkalnya, yang padahal mayatnya itu ada dihadapanku.
Turun ia dari kereta jenazah. Telah ada tenda disana.
Kemudian doa-doa yang dipimpin oleh pak Haji, dia diturunkan kedalam. Papa ada disana menurunkan dirinya bersama om-om dan Uwa uti. Lalu di serok tanah sedikit demi sedikit. Mama terpendam di dalam lubang. Terus sampai akhirnya ia lubang itu tak Nampak seperti lubang tapi gundukan memanjang. Dan kakak-kakak pun menangis di pinggir sambil mengelus-elus tanah kubur. Aku ada disitu. Dan tak bisa lagi mengelus tangan mama yang putih dan gemuk.
*

0 comments: